Upaya pemerintah China Untuk mendongkrak angka kelahiran tampaknya masih menemui jalan buntu. Meski Beijing telah jor-joran Memberi Dukungan Pemerintah hingga memperpanjang cuti melahirkan, jumlah bayi yang lahir Ke Negeri Tirai Bambu justru anjlok Hingga Catatan terendah sepanjang sejarah Ke tahun 2025.
Berdasarkan data terbaru Didalam Biro Statistik China, hanya ada Disekitar 7,92 juta bayi yang lahir tahun lalu. Angka ini merosot tajam dibandingkan tahun Sebelumnya yang mencapai 9,54 juta kelahiran. Trend Populer ini menandai tahun keempat berturut-turut Pertumbuhan China Merasakan penyusutan, Didalam angka kematian yang jauh melampaui angka kelahiran.
Krisis demografi ini dipandang sebagai konsekuensi jangka panjang Didalam Keputusan satu anak yang pernah diterapkan Di puluhan tahun. Yi Fuxian, pakar demografi Didalam University of Wisconsin-Madison, mengibaratkan penurunan fertilitas Ke China seperti sebuah batu raksasa yang Lagi menggelinding turun Didalam bukit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Keputusan satu anak China mempercepat proses ini. Akansegera sangat sulit Untuk Merangsang batu itu kembali Hingga atas,” ungkap Yi kepada Financial Times.
Ia mencatat bahwa angka fertilitas China kini hanya berada Ke angka 0,98, jauh Didalam standar 2,1 yang dibutuhkan Untuk menjaga stabilitas Pertumbuhan. Fakta yang lebih mengejutkan, meski China Memperoleh 17 persen Didalam total penduduk dunia, jumlah kelahirannya hanya menyumbang 6 persen secara Internasional, setara Didalam angka kelahiran Ke Nigeria yang populasinya jauh lebih kecil.
Studi yang dirilis Didalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (Perserikatan Bangsa-Bangsa) Ke tahun 2024 Memberi gambaran masa Di China yang sangat kelam. Berdasarkan hitung-hitungan demografi, Pertumbuhan China yang Pada ini berjumlah Disekitar 1,4 miliar jiwa diprediksi Akansegera menyusut menjadi 1,3 miliar Ke tahun 2050. Perserikatan Bangsa-Bangsa Meramalkan Pertumbuhan China Akansegera anjlok drastis hingga tersisa hanya 633 juta jiwa Ke tahun 2100.
Gagal Bujuk Warga Nikah-Punya Anak
Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Tahun lalu, aturan pendaftaran pernikahan sempat dilonggarkan agar pasangan bisa menikah lebih mudah tanpa terganjal urusan domisili (hukou). Tetapi, kemudahan administratif ini tidak cukup kuat melawan rasa pesimis warga Di Kemakmuran ekonomi.
Banyak pasangan muda merasa biaya membesarkan anak terlalu tinggi Ke Ditengah ketidakpastian ekonomi. Untuk mereka, Memperoleh anak bukan lagi sekadar mengikuti Kebiasaan, melainkan beban Perbankan yang berat. Alhasil, meski tahun 2024 (Tahun Naga) sempat Memberi sedikit harapan Lantaran Disorot tahun keberuntungan Untuk melahirkan, Gaya tersebut langsung sirna Ke tahun berikutnya.
Menyusutnya jumlah tenaga kerja produktif memaksa Beijing memutar otak agar ekonomi tetap tumbuh. Salah satu strategi utama yang kini ditempuh adalah otomatisasi besar-besaran. Lantaran jumlah pembayar Iuran Wajib berkurang Sambil Itu jumlah pensiunan membengkak, China kini bertaruh Ke Ilmu Pengetahuan Mesin Otomatis.
Pada ini, China menjadi pemimpin dunia Di penggunaan Mesin Otomatis industri, Didalam tambahan Disekitar 280.000 Mesin Otomatis Mutakhir setiap tahunnya. Harapannya, mesin-mesin ini bisa menggantikan peran manusia Ke pabrik-pabrik dan menopang ekonomi Ke Ditengah krisis penduduk yang Lebih mengkhawatirkan.
Halaman 2 Didalam 2
Simak Video “Video: 23 Ribu Bayi Lahir Ke Korea Selatan, Naik 11 Persen Didalam Tahun Lalu“
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: China Gagal Rayu Warganya Nikah-Punya Anak, Pertumbuhan Terancam ‘Punah’?











