Foto traveling bukan hanya soal pose sempurna, tapi momen. Simak tips fotografer mulai Untuk Menahan cahaya, ekspresi, dan cerita Ke balik foto yang terlihat sederhana.
Ke era media sosial yang dipenuhi foto serba rapi dan pose yang nyaris seragam, fotografi justru kembali Ke akarnya Menahan momen. Bukan soal Perekamgambar mahal atau lokasi ikonik, melainkan kepekaan membaca waktu, cahaya, dan ekspresi manusia.
Untuk fotografer, foto yang kuat sering kali lahir Untuk situasi sederhana Justru acak. Menurut mereka memfoto objek adalah tentang momennya. Prinsip seperti itu banyak dipegang Didalam sebagian fotografer ketika membidik objek mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ari Saputra, seorang fotografer detikcom, membagikan tips dan trik Sebagai Memperoleh hasil bidikan yang sempurna.
“Kalau mau foto, pastikan dulu momennya pas, ekspresinya bagus, lightingnya oke, kalau udah, langsung aja jepret jepret jepret,” ujarnya kepada detikTravel, Rabu (28/1/2026).
Untuk informasi yang dibagikan Ari, berikut detikTravel rangkum tips Sebagai Memperoleh hasil foto yang bagus ala fotografer.
Tips Foto Traveling Untuk Fotografer
1. Pagi dan Sore, Waktu Emas Fotografi
Ketepatan waktu menjadi faktor krusial Untuk fotografi. Ari menyarankan keluar Ke pagi dan sore hari Sebagai Menyambut momen terbaik Untuk memotret. Menurutnya memotret Ke pagi dan sore hari memungkinkan detikers Menyambut pencahayaan yang pas.
“Kalau mau dapat foto bagus, keluar Untuk pagi-pagi banget, atau sore sekalian. Jangan keluar pas siang, Sebab pencahayaannya jelek,” kata Ari.
Di pagi hari, cahaya matahari masih lembut dan cenderung hangat. Bayangan tidak terlalu keras, warna tampak lebih natural, dan suasana cenderung lebih Tenteram. Nah pemandangan ini sangat ideal Sebagai memotret lanskap, arsitektur, hingga potret manusia.
Sambil Itu, sore hari terlebih menjelang matahari terbenam menawarkan pemandangan yang dikenal sebagai golden hour. Cahaya keemasan yang muncul secara singkat ini memberi dimensi dramatis Di foto, menciptakan siluet, dan mempertegas tekstur objek.
Sebagai Gantinya, siang hari sering kali menjadi tantangan. Matahari berada tepat Ke atas kepala, menghasilkan bayangan keras dan kontras ekstrem.
Wajah objek bisa terlihat terlalu terang Ke satu sisi dan gelap Ke sisi lain. Sebab itu, banyak fotografer memilih “skip” memotret Ke jam ini, kecuali Untuk Situasi atau Prototipe tertentu.
2. Membaca Momen Sebelumnya Menekan Rana
Fotografi bukan soal cepat-cepatan menekan tombol, melainkan membaca situasi. Fotografer yang berpengalaman Akansegera memperhatikan banyak hal Untuk hitungan detik mulai Untuk pencahayaan, latar Dibelakang, ekspresi, hingga pergerakan subjek.
Sebelumnya memotret, fotografer biasanya Merasakan beberapa hal seperti arah cahaya datang, latar Dibelakang mendukung atau tidak, ekspresi apa yang Akansegera muncul, dan cerita dibalik adegan tersebut. Dan ketika momen terasa pas, barulah rana ditekan.
3. Momen Lebih Penting Untuk Cara Sempurna
Untuk praktiknya, Ari mengakui bahwa foto yang bagus tidak selalu sempurna secara teknis. Fokus bisa sedikit meleset, framing tidak sepenuhnya simetris, atau komposisi tampak spontan. Akan Tetapi justru Ke situlah kekuatannya.
Untuk satu sesi memotret, bisa saja diambil puluhan hingga ratusan gambar. Tidak semuanya bagus, tapi hampir selalu ada satu foto yang menonjol.
“Kalau mau jepret jangan ragu, jepret-jepret aja, random. Saya juga biasanya Untuk 10 foto yang dijepret pasti ada satu atau dua yang menonjol dan bisa dipakai,” ujar Ari.
Ari menjelaskan satu hal penting Untuk fotografi yaitu jangan terlalu takut salah. Fotografi adalah proses coba-coba. Untuk 10 foto, Bisa Jadi hanya satu yang benar-benar kuat dan itu sudah lebih Untuk cukup.
4. Memotret Secara Acak, Tapi Terkonsep
Istilah “random” Untuk fotografi bukan berarti asal-asalan. Untuk Situasi Ini random bisa berarti tidak terlalu kaku Di Wacana, tapi tetap sadar Didalam apa yang terjadi Ke Di.
Fotografer sering memotret hal-hal kecil yang terlihat sepele: orang berjalan, cahaya memantul Ke dinding, ekspresi singkat Ke wajah seseorang, atau gerakan tangan yang tak disengaja.
Foto-foto seperti ini Bisa Jadi tidak direncanakan, tapi justru menyimpan emosi dan kejujuran yang sulit dibuat-buat.
5. Jangan Menyerah Hanya Sebab Hasil Awal Jelek
Salah satu Kesalahan Individu paling umum Untuk pemula adalah berhenti memotret Sebab merasa hasilnya jelek. Padahal, fotografer profesional pun melewati fase yang sama.
Alih-alih berhenti, fotografer justru disarankan Sebagai tetap memotret dan fokus Di proses. Setiap foto yang gagal tetap memberi pelajaran: soal cahaya, sudut, atau timing.
“Intinya harus konsisten, jangan Sebab hasil awal jelek malah nggak ngambil foto. Itu jelas salah,” kata Ari.
Lebih sering memotret, insting Akansegera terbentuk. Mata Akansegera Lebih peka membaca momen. Dan perlahan, foto yang diambil Akansegera Meresahkan Didalam sendirinya.
6. Fotografi sebagai Laga Persahabatan Kepekaan
Lebih Untuk sekadar Kekuatan teknis, fotografi adalah Laga Persahabatan kepekaan. Peka Pada cahaya, ruang, emosi, dan cerita Ke Di.
Didalam keluar pagi atau sore hari, memperhatikan momen, berani Memutuskan foto meski belum yakin hasilnya, serta tidak mudah menyerah, fotografer belajar melihat dunia Didalam cara yang berbeda.
Simak Video “Video Ulik Fitur Terbaru iPhone 16: Camera Control & Photographic Styles!“
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Berburu Momen, Bukan Cuma Pose











