Jakarta –
Tidak sedikit korban hubungan toksik yang memilih bertahan meski terus Menyaksikan perlakuan yang menyakitkan. Keputusan ini kerap menimbulkan pertanyaan Untuk orang-orang Ke sekitarnya yang menganggap korban seharusnya bisa Bersama mudah meninggalkan pasangannya.
Padahal tidak sesimpel itu, ada faktor yang dapat membuat korban merasa sulit melepaskan diri. Spesialis kejiwaan dr Erickson Arthur S, SpKJ mengatakan alasan korban sulit keluar Untuk hubungan toksik adalah trauma bonding. Di Menyaksikan trauma bonding, Ahli Kebugaran menyebut ada fase-fase siklus yang terjadi.
“Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada Kekejaman. Kekejaman yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai Ke situ,” kata dr Erick.
dr Erick menjelaskan, pelaku Kekejaman biasanya Berencana memasuki fase berikutnya, misalnya Bersama meminta maaf dan berjanji tidak Berencana mengulangi kesalahannya lagi.
“Pelaku bisa melakukan fase Berikutnya, yaitu meminta maaf dan akhirnya bermanis-manis lagi, Menyediakan harapan lagi. Itu yang akhirnya membuat ada ikatan secara emosional,” ungkap dr Erick.
Ikatan emosional yang terbentuk membuat korban terus memaafkan pasangannya, terlebih jika hubungan tersebut sudah berlangsung lama. Tetapi, siklus tersebut umumnya Berencana terus berulang.
“Akhirnya dia (korban) susah Sebagai menyingkir atau menyudahi hubungan itu,” ungkapnya.
“Itulah yang namanya manipulatif. Dia (pelaku) Berencana mencari cara agar tidak ditinggalkan, Bersama cara meminta maaf,” tambah dr Erick.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kenapa Sulit Keluar Untuk Hubungan Toksik? Ahli Kebugaran Ungkap Fakta Trauma Bonding











