loading…
IHSG diproyeksikan masih Berencana Berjuang Di tekanan volatilitas Ke pekan ini, Di kombinasi kenaikan suku bunga Pengatur Moneter utama dunia, hingga lonjakan harga energi. Foto/Dok
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengungkapkan, bahwa sepekan lalu IHSG ditutup melemah 3,09% Hingga level 6.241, diiringi Aksi Massa jual bersih (net outflow) investor Foreign yang mencapai Rp3,5 triliun Ke pasar reguler.
“Gangguan Ke East-West Pipeline Saudi yang menjadi jalur alternatif pengiriman Migas Untuk menghindari Selat Hormuz mempersempit fleksibilitas distribusi ketika jalur utama Berjuang Di risiko eskalasi,” kata David Untuk risetnya, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: Dampak Batas Harga Saham Rp1, IHSG Senin Besok Diprediksi Lanjutkan Koreksi
Menurut David, sentimen Dunia Untuk narasi higher-for-longer kembali menguat pascakenaikan suku bunga acuan Di The Fed sebesar 25 bps menjadi 3,75-4,00%, yang diikuti pengetatan Di ECB serta Bank of Japan (BOJ) Hingga level 1,25%.
Kenaikan yield US Treasury tenor panjang merangsang realokasi dana Untuk pasar berkembang (emerging markets) kembali Hingga aset AS. Baca Juga: IHSG Sepekan Anjlok 3,09 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Tergerus Rp361 Triliun
Ke sisi lain, konflik Politik Global turut memicu gejolak Ke Barang Dagangan energi. Serangan Houthi Di infrastruktur East-West Pipeline milik Saudi Aramco sempat mendongkrak harga Migas mentah Brent menembus USD100 per barel dan WTI menguat 12,38% MoM Hingga USD92,41 per barel.
“Harga Migas memang mulai termoderasi Ke pekan terakhir September seiring berlangsungnya pembicaraan AS Iran Yang Terkait Di kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Tetapi, hasil perundingan tersebut Berencana menjadi penentu utama arah harga energi Ke bulan Oktober, sekaligus ekspektasi Fluktuasi Harga Dunia,” jelas David.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Intip Proyeksi IHSG Pekan Ini usai Ambles 3% Di Outflow Foreign Rp3,5 Triliun











