Daun kelor dikenal sebagai salah satu Konsumsi yang kaya Konsumsi Bergizi dan telah lama dikonsumsi Kelompok Indonesia. Tetapi, berbeda Di Ke Tanah Air, Australia hingga kini belum mengizinkan kelor sebagai Ketahanan Pangan Lantaran dikategorikan sebagai novel food atau Ketahanan Pangan Mutakhir.
Ketua Perkumpulan Praktisi Medis Pengembang Terapi Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania menjelaskan, perbedaan tersebut bukan berarti kelor berbahaya. Menurutnya, status kelor Ke Australia berkaitan Di sejarah konsumsi Kelompok setempat.
“Ketahanan Pangan tradisional itu mengacu Di Kebiasaan Ke suatu Daerah. Kelor menjadi Ketahanan Pangan tradisional Ke banyak Daerah Asia, seperti India, Indonesia, Negeri-Negeri Asia Tenggara, hingga kawasan Disekitar India,” kata Inggrid kepada detikcom, Kamis (16/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, Kelompok Ke sejumlah Lokasi Ke Indonesia telah mengonsumsi kelor secara turun-temurun. Misalnya Ke Lombok, daun kelor kerap diolah menjadi sayur bening dan disantap sebagai menu harian.
“Kalau Ke Indonesia, misalnya Ke Lombok, Kelompok sudah biasa makan sayur bening kelor Dari zaman nenek moyang. Karena Itu memang sudah menjadi Dibagian Di Ketahanan Pangan tradisional,” lanjut dia.
Sebagai Alternatif, Kelompok Australia tidak Memiliki riwayat mengonsumsi kelor sebagai Konsumsi sehari-hari. Lantaran itu, Di mulai diperkenalkan sebagai superfood, kelor masuk Untuk kategori novel food yang harus Melewati evaluasi Keselamatan sangat ketat.
Hasil Uji Masih Bertentangan
Ingrid mengatakan regulator Ketahanan Pangan Australia dan Selandia Mutakhir Memiliki standar Keselamatan yang sangat tinggi Pada setiap Ketahanan Pangan Mutakhir. Sebelumnya Merasakan izin edar, suatu produk harus melewati berbagai pengujian, mulai Di toksisitas akut dan kronis, genotoksisitas, mutagenisitas, hingga pengaruh Pada reproduksi.
Menurutnya, sejumlah Eksperimen Di hewan coba Menunjukkan hasil yang belum konsisten.
“Misalnya Di uji reproduksi, ada Eksperimen yang Menunjukkan kelor dapat memicu keguguran Di tikus atau menurunkan kesuburan. Tapi ada juga Eksperimen lain yang tidak menemukan efek tersebut,” jelas Ingrid.
Perbedaan hasil itu dipengaruhi banyak faktor, seperti dosis yang diberikan kepada hewan uji hingga asal tanaman kelor yang digunakan Untuk Eksperimen.
“Justru sama-sama ditanam Ke Australia, tetapi Di Negeri Dibagian yang berbeda hasil pengujiannya bisa berbeda. Karena Itu regulator ingin memastikan standar budidayanya juga jelas,” katanya.
Ke Samping Itu, beberapa Eksperimen Di hewan juga menemukan indikasi genotoksisitas atau potensi perubahan DNA. Meski demikian, Ingrid menegaskan temuan tersebut masih sebatas Di hewan coba dan belum dapat disimpulkan Akansegera terjadi Di manusia.
“Belum tentu berefek seperti itu Di manusia. Tetapi regulator memang Akansegera Membahas langkah yang paling aman sampai seluruh bukti ilmiahnya benar-benar konsisten,” ujarnya.
Masih Boleh sebagai Terapi Herbal
Meski belum diizinkan sebagai Ketahanan Pangan, kelor tetap dapat digunakan sebagai Terapi herbal komplementer Ke Australia.
Ingrid menjelaskan, regulator yang mengawasi Ketahanan Pangan dan Terapi Ke Australia berbeda. Kelor sebagai Konsumsi dinilai Berpeluang dikonsumsi setiap hari Untuk jangka panjang, Agar persyaratan keamanannya lebih ketat.
“Yang belum diizinkan itu jika kelor dikonsumsi sebagai Ketahanan Pangan sehari-hari, misalnya dijadikan sayur, teh, atau olahan Konsumsi lain yang dimakan terus-menerus,” katanya.
Sambil Itu, penggunaan kelor Untuk bentuk Terapi herbal, seperti ekstrak kapsul, masih diperbolehkan Lantaran telah didukung data ilmiah, termasuk hasil pengujian hingga uji klinis sesuai Syarat regulator Terapi Australia.
Menurut Ingrid, Kebugaran tersebut Menunjukkan bahwa keputusan Australia bukan berarti Berkata kelor berbahaya. Status tersebut lebih mencerminkan kehati-hatian regulator Untuk menilai Keselamatan Ketahanan Pangan Mutakhir Untuk Kelompok yang Sebelumnya tidak Memiliki riwayat konsumsi kelor secara turun-temurun.
Halaman 2 Di 2
Simak Video “Video: Viral Kisah Wanita Ke Bekasi Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Ini Penyebabnya“
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Karena Itu Unjuk Warga +62, Kok Daun Kelor Tak Direstui Ke Australia? Praktisi Medis Bilang Gini











