Organisasi Kesejajaran Dunia (WHO) Memberi penilaian terbaru Yang Terkait Bersama munculnya Tindak Kejahatan Mikroba Nipah Hingga Benggala Barat, India. Meski Mikroba ini sangat mematikan dan belum Memperoleh Imunisasi maupun Terapi, WHO menilai risiko penyebaran nasional hingga Internasional Di ini masih berada Di level rendah.
Sejalan Bersama penilaian tersebut, WHO menegaskan bahwa Di ini tidak ada rekomendasi pembatasan perjalanan atau perdagangan Hingga India.
“Berdasarkan bukti terkini, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan apa pun,” tulis WHO Untuk keterangan resminya dikutip Jumat (30/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fokus Di Klaster Terbatas
Untuk laporan resminya per 29 Januari 2026, WHO menjelaskan bahwa Tindak Kejahatan Mikroba Nipah Hingga India Di ini bersifat terbatas (sporadis). Dua Tindak Kejahatan yang dikonfirmasi Di awal Januari menimpa dua orang perawat Hingga sebuah Fasilitas Medis swasta Hingga distrik North 24 Parganas.
Hingga 27 Januari 2026, Skuat Kesejajaran telah melacak dan menguji 196 orang yang sempat melakukan kontak erat Bersama pasien. Hasilnya, seluruh kontak tersebut dinyatakan negatif dan tidak Menunjukkan Tanda-Tanda. Hal ini Menunjukkan bahwa belum ada bukti peningkatan penularan antar-manusia secara luas.
Risiko Lokal Moderat, Internasional Rendah
WHO membagi penilaian risiko menjadi beberapa tingkatan:
- Tingkat Sub-nasional (Benggala Barat): Risiko dinilai Moderat. Hal ini dikarenakan Daerah perbatasan India-Bangladesh merupakan habitat alami kelelawar buah yang membawa Mikroba tersebut.
- Tingkat Nasional dan Internasional: Risiko dinilai Rendah. Tindak Kejahatan Di ini terisolasi Hingga satu distrik dan pasien tidak melakukan perjalanan Di Menunjukkan Tanda-Tanda.
“Sejarah Menunjukkan bahwa wabah Nipah Hingga Asia Tenggara biasanya hanya terjadi Untuk klaster kecil dan jarang sekali menyebar luas secara internasional Melewati perjalanan,” tulis WHO Untuk keterangannya.
Meski risiko penyebarannya rendah, WHO tetap mengingatkan urgensi kewaspadaan Sebab belum adanya Imunisasi atau Terapi berlisensi Sebagai Mikroba Nipah. Penanganan pasien Di ini sepenuhnya hanya berupa Perawatan Medis suportif Sebagai mengatasi Tanda-Tanda radang otak dan gangguan pernapasan.
Hingga akhir Januari, dilaporkan satu perawat pria mulai pulih, Sambil satu perawat wanita lainnya masih Untuk Situasi kritis.
Walaupun tidak ada larangan bepergian, WHO Merangsang otoritas setempat Sebagai terus memperkuat pengawasan laboratorium dan komunikasi risiko. Kelompok diimbau Sebagai tetap melakukan langkah Upaya Mencegah mandiri, seperti menghindari konsumsi nira pohon kurma mentah yang berisiko terkontaminasi air liur kelelawar dan selalu mencuci bersih buah-buahan.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “Video: Mikroba Nipah Berisiko Sebabkan Kematian hingga 75%“
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Risiko Penularan Mikroba Nipah Hingga India Rendah, Tak Ada Pembatasan Perjalanan











