Jakarta –
Para miliarder dan kalangan super kaya dilaporkan Lebih sering menggunakan jet pribadi, kendati industri penerbangan komersial Untuk terpukul krisis bahan bakar akibat Pertempuran Iran. Kenapa ya?
Situasi itu bertolak Di Didalam penerbangan komersial Di ini. Lantaran pasar energi Dunia terganggu, banyak penerbangan komersial dibatalkan.
Ya, Dari konflik pecah Di Amerika Serikat (AS)-Israel Didalam Iran dan Selat Hormuz diblokade, aliran bahan bakar Energi Didalam kawasan Teluk praktis terhenti. Situasi itu memicu kelangkaan bahan bakar jet dan gangguan besar Ke jadwal penerbangan komersial Ke berbagai Negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke Di bersamaan penggunaan jet pribadi justru Menimbulkan Kekhawatiran secara Dunia.
“Selain Ke Timur Di, industri jet pribadi Dunia tidak terlalu terdampak kenaikan biaya bahan bakar. Justru, penerbangan jet pribadi naik 4,7% hingga pertengahan April,” ujar analis WINGX Advance Nick Koscinski, dikutip Didalam Mirror, Selasa (5/5/2026).
Ke beberapa kota besar AS, seperti Washington DC dan Houston, kenaikannya Justru lebih tajam, mencapai 17% Untuk setahun.
Gangguan pasokan Energi membuat pengiriman bahan bakar jet turun Ke level terendah. Data Menunjukkan volume pengiriman jet fuel dan kerosin anjlok lebih Didalam separuh dibandingkan rata-rata Sebelumnya Pertempuran.
Badan Energi Internasional (IEA) Justru memperingatkan bahwa Eropa Berpotensi Untuk Merasakan kekurangan bahan bakar jet hanya Untuk hitungan minggu jika Situasi tidak membaik.
Harga bahan bakar Jet A1 dilaporkan sudah naik hampir dua kali lipat Dari awal tahun. Akan Tetapi, kenaikan ini tidak terlalu menekan pasar jet pribadi. Biaya tambahan tersebut umumnya langsung dialihkan Ke User akhir, yaitu kalangan super kaya. Sebab, permintaan tetap stabil Justru cenderung Menimbulkan Kekhawatiran.
“Biaya memang naik signifikan, tapi permintaan tetap tinggi. Artinya, Untuk pasar ini, Fluktuasi Harga belum Mengurangi Kegiatan terbang,” kata analis Richard Koe Didalam WINGX Advance.
Ke balik Tren itu, muncul sorotan soal ketimpangan. Peneliti transportasi Didalam Linnaeus University, Stefan Gossling, menilai persoalannya bukan hanya soal emisi, tetapi juga keadilan.
“Kerusakan terbesar ditimbulkan Didalam mereka yang punya banyak uang, Sambil Itu biayanya ditanggung Didalam mereka yang Memiliki sedikit uang,” ujar Gössling.
Ke Di Yang Sama, laporan Oxfam menyoroti kesenjangan emisi yang ekstrem, menyebut miliarder dapat menghasilkan emisi karbon lebih banyak Untuk 90 menit dibandingkan rata-rata orang Untuk seumur hidup.
(fem/fem)
Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Avtur Mahal, Orang Super Kaya Justru Makin Sering Pakai Jet Pribadi











