Hingga Semarang, ada sebuah makam penyebar agama Islam bernama Kiai Jungke. Keberadaan makam ini lekat Didalam Kearifan Lokal telur sambal kecap. Bagaimana kisahnya?
Makam Kiai Jungke berada Hingga Ditengah permukiman warga Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Ditengah. Tak banyak yang tahu tentang keberadaan makam ini, kecuali warga setempat.
Untuk Di Hingga lokasi, traveler bisa melewati Jalan Gendingan Hingga Didekat Queen City Mall. Hingga jalan tersebut, terdapat sebuah lorong sempit yang hanya bisa dilewati satu unit Kendaraan Bermotor Roda Dua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makam Kiai Jungke sulit ditemukan lantaran ‘tenggelam’ Hingga Ditengah padatnya permukiman warga. Beruntung seorang bocah setempat tahu Hingga mana letak makam tersebut.
“Hingga mana makam Kiai Jungke?” tanya kami.
“Hingga sana, terus lurus, terus belok kanan,” tunjuk bocah lelaki itu yang Lalu menghilang Hingga balik gang sempit permukiman.
Disekitar 10 meter Didalam jalan raya, tampak pemukiman. Jika belok Hingga kanan, traveler bakal menemukan sebuah lokasi yang ditembok merah dan ditutup menggunakan dua pintu. Hingga dalamnya terdapat dua makam yakni Kiai Jungke dan istrinya, Raden Ayu Noyowongso.
Makam Kiai Jungke memang berada Hingga Ditengah permukiman. Sudah Dari awal kuburan itu ada Hingga lokasi tersebut, hanya saja penduduk Lebihterus padat seiring bertambahnya waktu.
“Kalau dulu areanya besar. Lantaran Bisa Jadi Didalam Perkembangan Komunitas, akhirnya kan sesak,” jelas Ketua Pengurus Makam Kiai Jungke, Nur Mahfud.
Meski ‘tersembunyi’ Hingga Ditengah permukiman, Mahfud menyebut, banyak Komunitas Didalam luar Kota Semarang yang berziarah Hingga makam Kiai Jungke. Sosok tersebut juga dipercaya sebagai penyebar Islam Hingga Kota Semarang.
“Tamu-tamu kita Didalam Jepara juga, Pati, Kudus itu banyak yang Hingga sini juga,” sebutnya.
Asal Usul Kiai Jungke
Mahfud mengatakan sosok Kiai Jungke Memperoleh nama asli Sayyid Husein. Sayyid Husein wafat Di abad Hingga-17 atau tahun 1600-an.
Tokoh tersebut dipercaya sebagai keturunan Sunan Bonang, Sambil Raden Ayu Noyowongso Memperoleh ikatan Didalam Keraton Solo.
“Asalnya kalau yang saya tahu, dia keturunan Didalam Sunan Bonang. Kalau wafatnya Disekitar 1600 sekian. Tapi juga ada yang Hingga keraton Didalam Raden Ayu Noyowongsonya,” ungkap Mahfud Pada ditemui Hingga makam Kiai Jungke.
“Makanya Hingga sini kemarin Di Pada kirab itu kenapa kok adatnya Solo? Nah, kita juga harus unggah-ungguhnya Hingga sana (Keraton Solo) dulu juga. Didalam Sebab Itu Pada kita mau menjalankan haul ini, kula nuwun (meminta izin). Akhirnya ketemu rajane, akhirnya dikasih air yang tertua Hingga pertapaan Hingga Keraton Solo,” lanjutnya.
Di Sabtu (27/6), Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, Hadir Untuk pengajian haul sekaligus meresmikan makam Kiai Jungke. Menurut Iswar, perjuangan Kiai Jungke patut Untuk diteladani.
“Kita bisa berdiri Hingga Ditengah kota Didalam Komunitas yang makin baik hari ini, itu semua tidak lepas Didalam perjuangan dakwah yang beliau lakukan Di masa lampau. Warga Pandansari harus bangga Lantaran Hingga Daerah ini dimakamkan seorang tokoh besar. Tugas kita bersama adalah mengikuti jejak sekaligus meneladani perjuangan beliau,” kata Iswar.
Kearifan Lokal Telur Sambal Kecap
Salah satu keturunan Kiai Jungke, Hariyani (52) menceritakan makam Kiai Jungke erat kaitannya Didalam Kearifan Lokal telur sambal kecap. Berdasarkan Kearifan Lokal yang telah mengakar Hingga Komunitas, Minuman tersebut diberikan Didalam warga yang tercapai hajatnya kepada para anak-anak kampung.
Bukan tanpa alasan, telur sambal kecap diberikan lantaran Kiai Jungke dipercaya senang Didalam anak kecil. Biasanya menu tersebut disajikan Didalam nasi liwet.
“Ya itu kalau kalau punya hajat apa gitu terus tercapai, orang-orang beri nasi liwet, telur sama sambal kecap. Itu dikasihkan anak kecil, sekarang orang tua-orang tua juga,” sebutnya.
Sajian tersebut diletakkan Hingga makam Kiai Jungke. Dan siapa saja bisa mengambilnya selagi tersedia.
“Pokoknya taruh situ terus ada yang doain toh, Terus semua Di bawa Piring taruh Hingga situ, nanti Untuk rata gitu,” ungkapnya.
Kearifan Lokal tersebut masih bertahan hingga kini. Sri Rejeki (45) semasa kecilnya sering Merasakan sego telur sambal kecap Didalam warga yang tercapai hajatnya.
“Dulu seperempat telurnya, satu telur dipotong Didalam Sebab Itu empat. Kalau orangnya sedikit dapat setengah, kalau banyak dapat seperempat. Biasanya kalau hajatnya tersampaikan pasti bancakan (selamatan) Hingga sini (makam Kiai Jungke),” terangnya.
Tidak ada undangan resmi Pada seorang warga Mengadakan syukuran Didalam menu nasi telur sambal kecap. Mereka langsung saja Memperkenalkan ‘bancakan’ yang disambut Didalam rombongan anak kecil yang membawa Piring.
“Woro-woro lah, ‘bancakan-bancakan’. Yang datang anak-anak kecil Berlari semua. Waktu saya kecil juga begitu, bawa Piring,” sebutnya.
Sri pun beberapa kali Mengadakan bancakan Hingga makam Kiai Jungke. Syukuran itu digelar semasa Sri pertama Memperoleh kerja, Malahan mampu membeli Kendaraan Bermotor Roda Dua perdananya.
“Dulu aku punya Kendaraan Bermotor Roda Dua, pertama kali kerja, bisa hamil. Dulu kan hamilku telat, terus, ‘nanti bancakan Mbah Kiai (Kiai Jungke)’. Dilalah diparingi momongan (hamil). Bancakan nggak ada waktunya bisa pagi, siang, sore, dan nggak ada harinya,” kisahnya.
———
Artikel ini telah naik Hingga detikJateng.
Halaman 2 Didalam 3
Simak Video “Video Makam Keramat Hingga Pandeglang Dibongkar gegara Diduga Palsu“
(wsw/wsw)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kearifan Lokal Telur Sambal Kecap dan Kisah Makam Kiai Jungke Hingga Ditengah Rumah Warga











