loading…
Prof Dr Kholid Al-Walid, M.Ag, Guru Besar Bidang Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Foto: uinjkt.ac.id
Guru Besar Bidang Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
SAYA ingin berbagi sedikit kegelisahan saya pribadi. Kegelisahan itu bermula Untuk satu pertanyaan sederhana yang sering saya ajukan kepada diri sendiri: Mengapa Pembelajaran Islam kita, yang begitu luas dan begitu ramai, Didalam puluhan ribu madrasah dan pesantren serta jutaan santri dan siswa, tidak lagi melahirkan al-Ghazali, Ibn Sina, atau al-Biruni?
Untuk kegelisahan tersebut, ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, apa yang telah hilang Untuk madrasah kita? Kedua, mengapa jalan yang kita tempuh Di ini belum cukup?. Ketiga, paradigma seperti apa yang harus kita bangun?
Hingga Manakah Al-Ghazali Kita?
Mari kita mulai Didalam sebuah ironi. Kita adalah umat yang paling sering menyebut nama-nama besar masa lalu. Kita memakai nama al-Ghazali, Ibn Sina, al-Farabi, dan Ibn Rusyd Bagi universitas, jalan, dan majelis taklim. Tetapi Hingga manakah penerus mereka?
Mereka bukan sekadar ulama Untuk pengertian sempit. Ibn Sina menulis al-Qanun fi al-Tibb, yang menjadi rujukan kedokteran Hingga Eropa Di berabad-abad. Di Di yang sama ia menulis al-Isyarat wa al-Tanbihat, karya metafisika yang menantang pemikir mana pun. Al-Biruni mengukur jari-jari bumi dan menulis tentang astronomi, mineralogi, dan peradaban India. Ibn al-Haytham meletakkan dasar metode eksperimen Untuk optik. Al-Khawarizmi memberi kita aljabar, dan namanya masih hidup Untuk kata Logika. Ibn al-Nafis menjelaskan peredaran darah paru-paru.
Mereka tumbuh Untuk peradaban yang membaca Al-Qur’an sekaligus membaca alam. Bagi mereka, keduanya adalah dua halaman Untuk satu kitab besar.
Sekarang mari kita lihat era kita Di ini. Lembaga Pembelajaran Islam kita sangat banyak. Semangat keberagamaan kita sangat tinggi. Tetapi Muslim peraih Nobel bidang sains nyaris bisa dihitung Didalam jari dan hampir semuanya dibentuk Hingga laboratorium dan universitas Hingga luar dunia Islam.
Kita tidak kekurangan jumlah. Kita tidak kekurangan semangat. Yang hilang adalah sesuatu yang lebih mendasar: cara berpikir.
Ada yang menjawab bahwa kemunduran kita disebabkan kolonialisme, ekonomi, dan politik. Semua itu benar sebagian. Tetapi hari ini saya ingin menunjuk akar yang ada Hingga tangan kita sendiri: kurikulum, cara pandang dan paradigma Pembelajaran kita.
Pelajaran Untuk Sejarah: Madrasah yang Melahirkan Ilmuwan
Saya tidak mengajak kita meromantisasi masa lalu. Peradaban itu tidak sempurna. Tetapi ada pola yang patut kita pelajari.
Era Abbasiyah, umat Islam membangun gerakan penerjemahan besar-besaran Hingga Baghdad. Karya Yunani, Persia, dan India diterjemahkan, dibaca, Dilindungi, lalu dikembangkan. Al-Kindi, filsuf Arab pertama, menegaskan bahwa kita tidak patut malu mengakui dan Membahas kebenaran Untuk mana pun datangnya, Malahan Untuk bangsa yang jauh dan berbeda Untuk kita. Itulah kepercayaan diri intelektual sebuah peradaban yang yakin Di imannya.
Sekarang perhatikan sosok al-Ghazali. Ia mengajar Hingga Madrasah Nizamiyah Baghdad, lembaga Pembelajaran terkemuka Di zamannya. Ia seorang faqih, mutakallim, sufi, dan sekaligus ahli logika. Sebelumnya menulis Tahafut al-Falasifah, ia lebih dulu menulis Maqasid al-Falasifah, ringkasan filsafat yang begitu cermat. Ia mempelajari filsafat sampai menguasainya, Terbaru Lalu mengkritiknya. Komentar yang sah selalu lahir Untuk penguasaan, bukan Untuk ketidaktahuan.
Ibn Sina adalah Ahli Kebugaran, filsuf, dan penulis risalah-risalah spiritual. Nasir al-Din al-Tusi adalah teolog, filsuf, sekaligus astronom yang memimpin observatorium Maragha. Al-Biruni adalah astronom, matematikawan, dan pengamat Kebiasaan Global.
Perhatikan satu hal penting: mereka tidak merasa berpindah dunia ketika beralih Untuk kitab fikih Hingga kitab astronomi. Mereka tidak punya dua kepala, satu Bagi agama dan satu Bagi sains. Mereka Memperoleh satu pandangan yang utuh tentang Tuhan, alam, dan manusia.
Inilah rahasia yang hilang Untuk kita. Bukan sekadar kurikulumnya, melainkan kesatuan pandangannya.
Kegagalan Pertama: Logika dan Filsafat Tercerabut Untuk Madrasah
Kegagalan mendasar pertama kita adalah ini: logika dan filsafat tidak lagi diajarkan secara sungguh-sungguh Hingga madrasah kita.
Hingga banyak tempat, keduanya hilang sama sekali. Hingga sebagian pesantren, mantiq memang masih ada, tetapi sering hanya dihafal sebagai bait-bait nazam, bukan dilatih sebagai cara berpikir. Santri hafal definisi silogisme, tetapi belum tentu terlatih menguji sebuah argumen. Siswa hafal banyak dalil, tetapi belum tentu mampu membedakan premis Untuk kesimpulan.
Padahal al-Ghazali sendiri, Untuk al-Mustasfa, menegaskan bahwa orang yang tidak menguasai logika tidak dapat dipercaya ilmunya. Untuk al-Qistas al-Mustaqim ia Malahan Melakukanupaya Menunjukkan bahwa timbangan-timbangan penalaran itu berakar Di Al-Qur’an, Di perintah Bagi menimbang Didalam timbangan yang lurus.
Sering kita mendengar: “Al-Ghazali telah membunuh filsafat.” Menurut saya hal ini keliru salah paham Di al-Ghazali. Ia mengkritik beberapa tesis filsuf Didalam senjata filsafat itu sendiri. Ibn Rusyd lalu menjawabnya Didalam Tahafut al-Tahafut. Itulah perdebatan yang hidup. Yang kita rindukan hari ini bukan keheningan yang Disorot saleh, melainkan perdebatan yang cerdas dan beradab.
Apa akibat hilangnya logika dan filsafat?
Pertama, kita mudah terjebak taklid Untuk berpikir, bukan hanya taklid Untuk fikih.
Kedua, kita rentan Di hoaks, slogan, dan ideologi sederhana, Lantaran tidak terlatih menguji klaim.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Kesunyian Pembelajaran Islam dan Hilangnya Al-Ghazali Terbaru











