loading…
Tokoh muda NU dan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli. Foto/Ist
Sedangkan Ke abad kedua ini, NU dituntut mampu Menyesuaikan Bersama disrupsi Ilmu Pengetahuan, dinamika politik nasional-Dunia, serta perubahan sosial yang sangat cepat. Hal itu disampaikan tokoh muda NU dan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli.
Baca juga: Apresiasi Peran Nahdlatul Ulama, Prabowo: Saya Merasakan Kuatnya Tangan Emak-Emak NU
“NU kini berada Ke persimpangan Di mempertahankan warisan kultural yang disimbolkan Dari sarung dan kitab kuning dan kebutuhan Untuk bertransformasi Berjuang Bersama realitas zaman. NU tidak boleh terjebak Di romantisme masa lalu. Kearifan Lokal harus tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja harus diperbarui agar NU benar-benar hadir sebagai pelayan umat Ke abad modern,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Salah satu tantangan krusial yang disoroti adalah hubungan Di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagai partai yang lahir Di rahim NU, PKB semestinya menjadi instrumen politik yang memperjuangkan kepentingan nahdliyin secara substantif.
Akan Tetapi, Di praktiknya, relasi keduanya kerap diwarnai konflik elite, saling delegitimasi, dan tarik-Menarik Perhatian kepentingan, terutama menjelang Pemilihan Umum 2024.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: KH Imam Jazuli Ungkap Tantangan dan Tranformasi NU Ke Abad Kedua









