Kebiasaan Kelompok Di Cirebon masih hidup dan terus diwariskan hingga kini. Hal ini terlihat Di sejumlah upacara dan ritual keagamaan yang masih dijalankan Di penyajian beberapa hidangan Di Sebab Itu ciri khasnya.
Bacaan berjudul ‘Bukan Sunda Bukan Jawa’ karya pakar gastronomi Murdjiati-Gardjito, Mulya Sari Hadiati, dan Aulia Safrina Membeberkan tuntas soal Konsumsi dan Kebiasaan Global makan Di Area Pantura, meliputi Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal.
Kawasan tersebut berada Di Area pertemuan Kebiasaan Global Sunda dan Jawa yang akhirnya melahirkan beragam hidangan Di cita rasa khas. Tak hanya itu, Kebiasaan Di Area Pantura juga masih lekat Di penyajian Konsumsi tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Cirebon, misalnya, Kebiasaan daur hidup Kelompok dimulai Dari Untuk kandungan hingga kematian. Beberapa upacaranya Menampilkan Konsumsi khas, seperti berikut:
1. Memitu
Kelompok Cirebon mengenal Kebiasaan memitu atau ritual tujuh bulanan Sebagai mendoakan janin yang dikandung seorang ibu. Selain pembacaan ayat suci Alquran, memitu juga Menampilkan berbagai hidangan.
Ada nasi wuduk, juadah pasar, rujak parud, rujak asem, rujak pisang, rujak selasih, aneka buah dan umbi, serta tebu wulung.
2. Nglolosi
|
Bubur lolos khas Cirebon. Foto: Cookpad/Tri Rahayu Imansyah
|
Sesudah tujuh bulanan, ada ritual terakhir kehamilan bernama nglolosi. Sesuai namanya yakni ‘lolos’ atau ‘lancar’, ritual ini dilakukan Pada usia kehamilan mencapai sembilan bulan.
Ada hidangan bubur lolos yang teksturnya licin. Hal ini menjadi perlambang proses kelahiran yang lancar. Bubur lolos sendiri merupakan penganan sejenis juadah licin yang dibagikan kepada tetangga seusai pengajian.
3. Mudun Lemah
Ketika bayi berusia tujuh bulan, biasanya ada ritual mudun lemah atau berarti turun tanah. Ritual ini menandakan perkenalan pertama anak Di tanah atau bumi.
Hidangan yang disiapkan Di lain bubur merah putih, tumpeng lengkap Di isinya, dan ketan tetel/ketan uli. Sebagai ketan tetel, nantinya anak dibimbing Sebagai menginjakkan kaki Di hidangan tersebut sebagai simbol harapan agar ia tidak melupakan tanah kelahirannya.
4. Selametan Manten
Aneka jenis pisang tersaji Untuk Kebiasaan Selametan Manten Di Cirebon. Foto: Matheus Bertelli/Pexels |
Lanjut ketika anak sudah dewasa dan ingin menikah, Di Cirebon ada ritual Selametan Manten. Kebiasaan ini dijalankan Di Kelompok Desa Kedungsana.
Sesajen Berencana disiapkan Sebagai ditaruh Di titik-titik tertentu. Isinya jajanan werna pitu (roti, bolu, rengginang, kupat dan kupat lepet, pisang ambon, pisang emas, dan pisang angling sebanyak masing-masing 1 sisir), udud serutu dan kinang, tumpeng iwak petek dan bekakak ayam, bubur merah putih Untuk wadah daun pisang), cabai merah dan bawang merah, Minuman manis, teh pahit, hingga air putih yang ditutup telur asin.
5. Rasulan
Ritual daur hidup Kelompok Cirebon tidak berhenti ketika dilaksanakan selametan manten. Malahan ketika manusia meninggal pun masih ada upacara tahlilan. Sesudah Itu ada upacara keagamaan bertajuk Rasulan Sebagai memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Rasulan biasanya diadakan Di 12 Maulud Dari pukul 18.30-21.00 Di Tempattinggal pemangku adat Ke makam Sunan Gunung Jati. Salah satu menu pelengkapnya adalah nasi rasul, terbuat Di beras ketan, nasi kuning, lauk pauk Di daging serta ikan laut, dan buah-buahan.
Jenis ikan laut maupun buahnya bisa disesuaikan Di musim Di Pada pelaksanaan upacara. Ketan disusun dilapisan paling bawah, Sesudah Itu ditumpuk nasi kuning dan lauk pauk, serta buah-buahan Di pinggirnya. Setiap komponen Konsumsi ini punya perlambang baik.
Selain nasi rasul, ada juga nasi tumpeng yang dititipi Di warga setempat. Nasi tumpeng nantinya dibawa kembali Di warga, sedangkan nasi rasul dibawa dan diarak Ke makam Sunan Gunung Jati. Nantinya didoakan dan dibagikan Di para pengunjung.
Halaman 2 Di 2
(adr/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: 5 Hidangan Khas yang Selalu Hadir Untuk Kebiasaan Kelompok Cirebon












