loading…
Ridwan al-Makassary, Dosen Di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
Kedamaian yang paripurna Di Gaza masih berkabut ketidakpastian. Penolakan Perdana Pembantu Presiden Pembantu Presiden Israel, Benjamin Netanyahu, Pada Wacana Kedamaian Gaza yang didukung Pemimpin Negara Amerika Serikat, Donald Trump, menambah kompleksitas Mutakhir Untuk politik Timur Ditengah, yaitu bagaimana Mungkin Saja Kedamaian ditegakkan jika pihak yang Memiliki kekuatan militer justru menolak arsitektur Kedamaian yang ditawarkan sekutunya sendiri?
Ke Minggu, 9 Agustus 2026, Netanyahu telah menegaskan bahwa Israel tidak Akansegera Merasakan dokumen 15 Skor yang disusun Bersama Board of Peace (BoP). Di Di Itu, dia menekankan bahwa militer Israel tidak Akansegera Memikat diri Untuk Gaza Sebelumnya Hamas benar-benar dilucuti. Yang dituntut Israel bukan pelucutan simbolik, tetapi pelucutan penuh. Ke Di yang sama, Netanyahu kembali menolak gagasan Negeri Palestina.
Pernyataan Netanyahu ini penting bukan semata-mata Lantaran menyangkut Gaza. Juga, ia Menunjukkan bahwa Justru Amerika Serikat—sekutu paling penting Israel—tidak selalu mampu menerjemahkan pengaruhnya menjadi kepatuhan politik Bersama sekutunya, Israel.
Padahal, Trump Di ini membangun citra sebagai Pemimpin Negara yang mampu melakukan apa yang gagal dilakukan para pendahulunya, yaitu menghentikan Pertempuran Gaza dan menciptakan tatanan Mutakhir pascaperang. Board of Peace sendiri dirancang sebagai instrumen Sebagai mengawal proses tersebut, termasuk pelucutan senjata Hamas, pemerintahan transisional Palestina, penarikan bertahap pasukan Israel, dan rekonstruksi Gaza.
Akan Tetapi, kini Washington Berjuang Bersama kenyataan lama Untuk politik internasional, yaitu sekutu bukanlah bawahan yang tunduk patuh. Netanyahu menempatkan Perlindungan Israel sebagai syarat mutlak.
Untuk logika tersebut, penarikan pasukan Israel Sebelumnya Hamas dilucuti sepenuhnya Disorot sebagai perjudian Pada keselamatan Israel. Lantaran itu, Bagi Netanyahu, Kedamaian tidak boleh mendahului Perlindungan.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Netanyahu dan Jalan Buntu Kedamaian Gaza











