loading…
Industri petrokimia dan plastik nasional Berusaha Mengatasi tekanan akibat meningkatnya Produk Impor bahan baku plastik asal China. FOTO/iStock Photo
“Produk Impor bahan baku plastik PE, PP, PVC, dan PET Bersama China kenaikannya cukup tinggi secara volume. Mereka juga banting harga Agar produknya lebih murah dibandingkan yang lain,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, seperti dikutip Di Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: 20 Bangsa Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Posisi Berapa?
Fajar mengatakan membanjirnya produk Produk Impor berharga murah membuat ruang produsen Untuk negeri Untuk mempertahankan margin keuntungan Lebih sempit. Kebugaran tersebut diperburuk Dari tingginya biaya energi, terutama harga gas industri Di luar skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), yang mencapai Di 13 Kurs Matauang Amerika AS per MMBtu Agar menekan daya saing industri nasional.
Menurut dia, pasar domestik masih Memiliki ketergantungan tinggi Pada Produk Impor bahan baku plastik. Kebutuhan polyethylene (PE) Di Indonesia mencapai Di 2 juta ton per tahun, sedangkan pasokan Untuk negeri Terbaru Di 1,2 juta ton. Sambil Itu kebutuhan polypropylene (PP) mencapai Di 2,1 juta ton, Tetapi produksi domestik Terbaru Di 900 ribu ton Agar sisanya masih dipenuhi Melewati Produk Impor.
Tekanan tersebut mulai berdampak Pada Karya industri. Sejumlah perusahaan, kata Fajar, telah Memangkas jam operasional Bersama mengubah sistem kerja Bersama pola shift menjadi harian, meski hingga kini belum terjadi pemutusan hubungan kerja (Pemutusan Hubungan Kerja) Di industri hulu. Tetapi, Karya sektor pendukung seperti Ekspedisi dan jasa bongkar muat mulai Merasakan penurunan.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Industri Plastik Tertekan Produk Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja











